INFO TERKINI 🕳️ Kasus korupsi kembali mencoreng wajah pemerintahan di Sulawesi Selatan. Masyarakat Sulawesi Selatan dikagetkan dengan kasus dugaan korupsi pengadaan bibit nenas yang menyeret Baktiar Baharuddin, mantan Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, sebagai tersangka. Kasus tersebut diduga merugikan negara hingga Rp60 miliar. Peristiwa ini menambah daftar panjang praktik korupsi yang terjadi di negeri ini, seolah tidak ada pelajaran yang diambil dari berbagai kasus sebelumnya.
Korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral dan budaya. Ketika rasa malu terhadap perbuatan tercela mulai hilang, maka penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Padahal, masyarakat Sulawesi Selatan termasuk di bumi Latemmamala, dari dulu sejak nenek moyang kita telah memiliki warisan budaya luhur yang sangat kuat sebagai benteng moral, yaitu budaya siri’ na pacce.
Siri’ na pacce adalah pranata budaya yang menjadi pertahanan harga diri masyarakat Bugis-Makassar. Siri’ berkaitan dengan rasa malu, kehormatan, dan martabat diri, sedangkan pacce mengandung makna empati, kepedulian, dan solidaritas sosial. Nilai ini terkait erat dengan kesusilaan, hukum, dan agama. Siri’ na pacce memiliki makna dan nilai yang amat tinggi, baik secara etimologi maupun filosofi.
Dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dahulu, siri’ merupakan sesuatu yang dijaga dengan penuh kehormatan. Seseorang akan merasa sangat malu apabila melakukan perbuatan yang merendahkan dirinya, keluarganya, maupun masyarakatnya. Rasa malu itu menjadi pengendali perilaku agar tetap berada pada jalan yang benar. Namun, nilai luhur tersebut perlahan mulai memudar dalam kehidupan sehari-hari. Malu untuk berbuat salah sudah tidak lagi menjadi pegangan utama. Akibatnya, praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan perilaku tidak jujur semakin mudah terjadi.
Oleh karena itu, strategi pencegahan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum semata. Pendekatan budaya lokal harus dihidupkan kembali sebagai bagian dari pendidikan moral dan sosial masyarakat. Nilai siri’ na pacce dapat dijadikan pondasi dalam membangun karakter anti korupsi, terutama bagi pejabat publik dan generasi muda.
Pertama, penanaman nilai siri’ na pacce harus dimulai dari lingkungan keluarga dan pendidikan. Anak-anak perlu diajarkan bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah perbuatan memalukan dan merendahkan martabat diri. Pendidikan karakter berbasis budaya lokal dapat menjadi benteng moral yang kuat di tengah perkembangan zaman.
Kedua, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah perlu bersama-sama menghidupkan kembali budaya malu terhadap korupsi. Selama ini, hukuman sosial terhadap pelaku korupsi terasa lemah. Padahal dalam nilai siri’, seseorang yang melakukan perbuatan tercela akan kehilangan kehormatan di mata masyarakat. Budaya ini perlu diperkuat agar pejabat publik memiliki rasa takut bukan hanya terhadap hukum, tetapi juga terhadap hilangnya harga diri dan kehormatan.
Ketiga, nilai pacce harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap penderitaan rakyat. Korupsi pada hakikatnya adalah tindakan yang merugikan masyarakat luas. Uang negara yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat justru dinikmati untuk kepentingan pribadi. Jika nilai pacce benar-benar tertanam, maka seseorang tidak akan tega mengambil hak rakyat karena memahami penderitaan yang ditimbulkan akibat korupsi.
Pada akhirnya, pemberantasan korupsi membutuhkan sinergi antara hukum, pendidikan, dan budaya. Siri’ na pacce bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga nilai moral yang relevan untuk menjawab krisis integritas saat ini. Sudah saatnya masyarakat Sulawesi Selatan kembali menjadikan siri’ na pacce sebagai pedoman hidup, agar rasa malu, kejujuran, dan kepedulian sosial kembali tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dengan menghidupkan kembali nilai luhur budaya lokal, diharapkan korupsi tidak lagi dianggap sebagai hal biasa, melainkan sebagai perbuatan yang mencederai kehormatan diri, keluarga, dan masyarakat.
Muhammad Rusli, S.H
Dewan Penasehat LAKI SOPPENG

0 Komentar