Dorong Petani Mandiri Energi, UIM dan UNM Bangun Biogas di Soppeng


iNFO TERKINI 🕳️ SOPPENG,  Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Islam Makassar (UIM) bersama Universitas Negeri Makassar (UNM) terus mengakselerasi upaya mewujudkan kemandirian energi sekaligus membangun model pertanian berkelanjutan di Desa Gattareng, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng.Rabu,19/8/2026

Hingga pertengahan Agustus 2026, progres pelaksanaan program telah mencapai sekitar 70 persen, dengan fokus utama pada penyelesaian pembangunan instalasi digester biogas serta renovasi kandang percontohan yang terintegrasi dengan sistem pengelolaan limbah ternak. Setelah rampung sepenuhnya, instalasi ini diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah ternak sekaligus menekan ketergantungan masyarakat terhadap gas LPG.

Program ini didanai melalui hibah Direktorat Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026. Kegiatan dipimpin oleh Dr. Ir. Helda Ibrahim, SP., M.Si., dengan anggota tim Dr. Ir. Asir, M.Si. (UIM) dan Prof. Dr. Ir. Ahmad Rifqi Asrib, M.T. (Universitas Negeri Makassar).

Saat ini, tim bersama Kelompok Tani Jampue tengah bergotong royong menyelesaikan konstruksi digester biogas tipe fixed dome berkapasitas empat meter kubik. Penataan ulang kandang ternak agar lebih higienis serta terhubung langsung dengan sistem penampungan limbah juga menjadi bagian penting dari pekerjaan yang sedang berlangsung.

“Alhamdulillah, berkat partisipasi aktif masyarakat, tahap pembangunan fisik saat ini sudah mencapai 70 persen. Pengerjaan galian pondasi dan struktur utama kubah (dome) digester telah berdiri dengan baik. Saat ini kami sedang mengejar sisa 30 persen pekerjaan, yang meliputi tahap akhir penyelesaian fisik, perbaikan drainase kandang, serta instalasi jaringan perpipaan gas menuju dapur-dapur warga,” ujar Dr. Helda Ibrahim.

Menurut Dr. Helda, manfaat program ini tidak berhenti pada penyediaan energi terbarukan. Setelah digester beroperasi penuh, proses fermentasi kotoran ternak akan menghasilkan bioslurry, yaitu pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair yang kaya akan unsur hara.
Produk sampingan ini akan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pupuk organik untuk mendukung penerapan sistem eco-farming atau pertanian ramah lingkungan. Kehadiran bioslurry diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sintetis sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi pertanian.

Pendekatan Partisipatif Perkuat Keberhasilan Program

Kemajuan pembangunan hingga mencapai 70 persen tidak terlepas dari penerapan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam setiap tahapan kegiatan.

Di bawah koordinasi Ketua Kelompok Tani Jampue, Haeruddin, para anggota kelompok terlibat langsung sejak proses sosialisasi, pemetaan lokasi, hingga pembangunan fisik instalasi biogas dan penataan kandang. Pendekatan gotong royong ini menjadi fondasi penting dalam membangun rasa memiliki terhadap program sehingga keberlanjutan pemanfaatannya lebih terjamin.

Seiring penyelesaian tahap konstruksi, tim pengabdian juga menyiapkan program edukasi dan pendampingan bagi masyarakat agar instalasi dapat dioperasikan secara optimal.


Pelatihan yang akan diberikan mencakup pengoperasian harian digester agar tetap berfungsi dengan baik, pengelolaan sanitasi kandang yang lebih sehat, serta pengembangan kewirausahaan berbasis produk pupuk organik bioslurry sehingga memiliki nilai ekonomi bagi warga.

Dengan progres pembangunan yang berjalan sesuai target, tim optimistis instalasi biogas percontohan ini segera dapat diresmikan dan dimanfaatkan secara penuh oleh masyarakat.
Ke depan, model yang dikembangkan bersama Kelompok Tani Jampue diharapkan menjadi praktik baik (best practice) yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Soppeng sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, dan terwujudnya desa-desa mandiri energi.

(Red)

0 Komentar