INFO TERKINI 📷 BONTANG – Visi besar Kota Bontang sebagai Kota Industri dan Jasa kini tengah menjadi sorotan.
Meski memiliki potensi objek destinasi tempat wisata (ODTW) yang melimpah, implementasi di sektor jasa pariwisata dinilai belum menunjukkan pergerakan yang signifikan atau "menggeliat".
Kritik ini mencuat menjelang momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Sejumlah organisasi mitra pariwisata di Kota Taman menilai Pemerintah Kota, melalui Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf), belum mengambil langkah proaktif dalam menyambut lonjakan wisatawan.
Menanti Inisiatif dan Kolaborasi Strategis
Ketua DPC MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) Kota Bontang, Eko Satrya, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum terlihat adanya koordinasi dan konsolidasi yang terintegrasi antara pemerintah dengan para penggiat pariwisata. Padahal, sinergi sangat dibutuhkan untuk mempromosikan potensi ODTW Bontang secara masif.
Beberapa organisasi mitra yang tengah menanti langkah nyata dari Dispoparekraf di antaranya:
PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia)
ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia)
PUTRI (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia)
HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia)
FORUM POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata)
MASATA (Masyarakat Sadar Wisata)
"Bontang memiliki daya tarik wisata alam maupun buatan yang tidak kalah bersaing. Bahkan, kita punya nilai lebih dengan konsep wisata terintegrasi. Namun, potensi ini tidak akan berarti tanpa upaya eksplorasi, ekspose, dan eksibisi yang maksimal dari pemerintah," ujar Eko Satrya.
Dampak Ekonomi yang Luas
Eko menegaskan bahwa lesunya sektor pariwisata berdampak langsung pada rantai ekonomi lainnya.
Jika sektor jasa pariwisata digarap dengan serius, maka sektor pendukung seperti perhotelan, restoran, transportasi, hingga pelaku UMKM dan kerajinan lokal akan ikut merasakan dampak positifnya.
Menurutnya, Pemerintah Kota harus lebih peka dan responsif dalam memanfaatkan setiap momentum untuk menghidupkan produktivitas masyarakat.
"Kita tidak boleh hanya menunggu. Pariwisata adalah lokomotif ekonomi kreatif. Jika pariwisata bergerak, UMKM dan kuliner kita juga akan tumbuh secara berkesinambungan," tambahnya.
Momentum "Berbenah" dan Sapta Pesona
Di sisi lain, wajah kota Bontang saat ini sebenarnya sudah mulai menunjukkan kesan Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, Kenangan) berkat pembenahan jalur utama jalan kota. Citra positif ini seharusnya menjadi modal kuat atau "nilai jual" untuk menarik wisatawan regional maupun nasional.
Eko Satrya mengajak seluruh pihak, mulai dari seniman, paguyuban etnis, hingga penggiat area terbuka, untuk bersama-sama mengoptimalkan sumber daya yang ada saat ini.
"Ayo kita BERBENAH... Membenahi yang sudah ada agar dapat dioptimalkan dan dikerjasamakan. Jangan biarkan momentum libur panjang ini berlalu tanpa kesan dan tanpa hasil ekonomi bagi warga Bontang," tutupnya.
Penulis: [Jusmin]
Sumber: DPC MASATA Kota Bontang

0 Komentar