Aman Berwisata di Bontang: Sinergi dan Kolaborasi untuk Keselamatan Wisatawan


INFO TERKINI  📷 Bontan - MASATA menegaskan bahwa keselamatan wisatawan adalah prioritas utama yang harus diutamakan oleh semua pihak baik oleh wisatawan sendiri maupun para pelaku usaha wisata. Karena itu, seluruh stake holder terkait mulai dari pemerintah dan organisasi mitra pariwisata serta para pelaku usaha jasa pariwisata memperkuat sinergi dan kolaborasi mengenai Standar Operasional Prosedur juga pengawasan pemanduan di ODTW (obyek destinasi tempat wisata) di Kota Bontang. 

Instansi terkait di Pemkot Bontang, ada Dispoparekraf, Disdamkartan, BPBD, Dinkes, Satpol PP, Disdikbud, dan lainnya termasuk POLAIR, TNI AL. Sedangkan di organisasi mitra pariwisata, ada MASATA, POKDARWIS, PUTRI, HPI, ASITA, PHRI dan lainnya ; Asosiasi Penyeberangan Kapal Wisata.

Selain itu, proteksi akan keamanan juga harus diberikan dari Asuransi Jiwa dan BPJS. Hal ini berlaku baik bagi wisatawan, pelaku jasa pariwisata dan support system di dalam usaha jasa pariwisata ; pekerja atau pegawai.

Dari beberapa kejadian/musibah yang dialami wisatawan di ODTW Kota Bontang sudah menjadi perhatian serius Pemkot Bontang. Langkah-langkah konkret dilakukan oleh Pemkot Bontang, seperti pengadaan speed boat tanggap kawasan wisata pesisir/laut Bontang guna melayani tanggap darurat bila terjadi emergency di wilayah pesisir/laut Bontang dan kapal Tanggap Bencana yang dilengkapi dengan fasilitas standar UGD seperti di rumah sakit.

Langkah ini sangat dibutuhkan bukan hanya bagi wisatawan atau pelaku usaha jasa wisata, namun dapat pula melayani kebutuhan darurat masyarakat/warga yang berdomisili di wilayah pesisir/laut. Mengingat wilayah Bontang >70% adalah wilayah perairan/laut. 

Dialog RRI Pro 1 Samarinda yang mengangkat tema “Aman Berwisata di Bontang” dengan mengundang sebagai narasumber yaitu ; • Kadisdamkartan Bontang dan • Ketua MASATA Bontang merupakan momen strategis secara promotif terkait pariwisata di Bontang, evaluatif dan antisipatif bagi instansi terkait di Bontang juga di daerah lain, dan mengintegrasikan semua stake holder bahwa dibutuhkan sinergi kolaborasi dalam mewujudkan Gerakan Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan) atau bentuk lainnya CHSE (Clean, Healt, Safety and Environmental).

Bontang selain dikenal sebagai Kota Industri dan Jasa, memiliki kekayaan ODTW dan hasil berbasis pesisir dan laut. Tentu menjadi daya tarik tersendiri khususnya di Kaltim. Intensitas kunjungan di kala waktu terbentuknya(liburan sekolah, hari besar, akhir tahun)  menjadi potensi resiko yang menuntut antisipasi yang matang baik dari Pemkot Bontang, pengelola ODTW, ormit pariwisata, ormas seperti Pramuka dan lainnya mulai faktor keselamatan dan keamanan pengunjung, antisipasi bencana alam hingga faktor kedisiplinan pengunjung. 

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata (Permenpar) Nomor 4/2021 tentang Standar Usaha Pariwisata Berbasis Resiko. 

Permenpar tersebut menekankan pada lintas koordinasi dengan berbagai pihak untuk kelancaran berwisata. 

MASATA melalui Program Wisata Industri sudah melakukan pelatihan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi pelaku usaha in line transport darat (sopir travel) bekerjasama dengan Badak LNG. Dalam waktu dekat akan melaksanakan kegiatan serupa yang jumlah peserta pelatihan lebih banyak lagi dengan Pupuk Kaltim. 

MASATA menghimbau kepada seluruh masyarakat agar senantiasa mematuhi peraturan di destinasi wisata dan berharap dari Dialog ini dapat menjadi referensi informasi/wawasan agar destinasi dapat terjaga secar optimal. 

Sinergi dan kolaborasi adalah kunci guna mewujudkan destinasi yang Sapta Pesona bagi semua kalangan, terutama keluarg dan anak-anak. 

(jusmin)

0 Komentar